MAKALAH
“TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK”
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah teori
belajar dan pembelajarannya
Disusun Oleh:
Kelompok 2
Filadelfia H0418302
Mutiara
Sabar H0418008
Nurhayati H0418010
Suburia H0418305
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SULAWESI BARAT
2019
KATA
PENGANTAR
Segala
puji bagi Allah SWT yang telah memberikan penulis beribu-ribu nikmat sehingga
makalah ini dapat terselesaikan, salam dan taslim semoga tetap tercurahkan
kepada baginda nabi besar Muhammad SAW, nabi yang telah mengobarkan bendera
kebenaran di muka bumi ini.
Adapun tujuan penulisan makalah mata
kuliah teori belajar dan pembelajarannya
“Teori Belajar Behavioristik” yaitu memenuhi
tugas mata kuliah teori belajar dan pembelajarannya dan dapat berguna dalam
menambah bacaan dan wawasan.
Dengan
terselesaikannya makalah ini karena adanya bantuan dari pihak-pihak tertentu,
maka dari itu penyusun mengucapkan
terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada :
1.
Ibu
Dr. Kartika Hajati, M.Pd. selaku dosen pengampuh mata kuliah
teori belajar dan pembelajarannya.
2.
Rekan-rekan kelompok 2 yang ikut
menyelesaikan makalah ini.
3.
Eshan digital printing yang telah
membantu penulis dalam tahap pencetakan makalah ini
4.
Semua pihak yang telah membantu dalam
penulisan makalah, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Penulis sadar dalam makalah ini masih
terdapat banyak kesalahan karena kekurangan yang dimiliki penulis, maka dari
itu penulis meminta saran yang bijak dan membangun dari pembaca guna adanya
peningkatan di penulisan makalah yang akan datang, dan mohon maaf atas segala
kekurangannya.
Majene, 18 Oktober 2019
Kelompok
2
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR .............................................................................. i
DAFTAR
ISI ............................................................................................. ii
BAB
I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang............................................................................ 1
B. Rumusan
Masalah ..................................................................... 2
C. Tujuan
Penulisan …………...................................................... 2
D. Manfaat
Penulisan ……………….……….……………….. … 2
BAB
II PEMBAHASAN
A. Pengertian
Belajar Menurut Pandangan Teori…….................... 3
B. Ciri
dari Teori Belajar Behavioristk…….…………................... 4
C. Tokoh-tokoh
Aliran Behavioristik dan Pandangannya…..…...... 4
D. Analisis
Kekuatan dan Kelemahan Teori Behavioristik ….… 15
E. Aplikasikan
Teori Behavioristik Dalam Kegiatan
Pembelajaran.........................................................................….. 16
BAB
III PENUTUP
A. Simpulan......................................................................................... 11
B. Saran............................................................................................... 11
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Belajar merupakan kegiatan seseorang untuk melakukan aktifitas
belajar. Menurut Piaget belajar
adalah aktifitas anak bila ia berinteraksi
dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisiknya. Menurut
pandangan psikologi behavioristik merupakan akibat adanya interaksi antara
stimulus dan respon. Seseorang yangtelah selesai melakukan proses belajar akan menunjukkan
perubahan perilakunya.Menurut teori ini yang penting dalam belajar adalah input
yang berupa stimulus dan output yang berupa respon.
Jika ditinjau dari konsep atau teori, teori behavioristik
ini tentu berbeda dengan teori yang lain. Hal ini dapat kita lihat dalam
pembelajaran sehari-hari dikelas. Ada berbagai asumsi atau pandangan yang
muncul tentang teori behavioristik. Teori behavioristik memandang bahwa belajar
adalah mengubah tingkah laku siswa dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak
mengerti menjadi mengerti, dan tugas guru adalah mengontrol stimulus dan
lingkungan belajar agar perubahan mendekati tujuan yang diinginkan, dan guru
pemberi hadiah siswa yang telah mampu memperlihatkan perubahan bermakna
sedangkan hukuman diberikan kepada siswa yang tidak mampu memperlihatkan
perubahan makna. Oleh karenanya, menurut aliran behaviorisme yang juga
dilatar belakangi oleh rasa ingin tahu kami yang ingin mengetahui lebih lanjut
lagi tentang teori behaviorisme dan diharapkan tidak lagi muncul
asumsi yang keliru tentang pendekatan behaviorisme tersebut, sehingga pembaca
memang benar-benar mengerti apa dan bagimana pendekatan behaviorisme.
B. Rumusan Masalah
Adapun masalah-masalah yang dapat
dirumuskan dari pemaparan sebelumnya yaitu:
1. Apa pengertian belajar menurut
pandangan teori behavoristik?
2. Apa ciri-ciri dari teori belajar
behavioristik?
3. Siapa tokoh-tokoh aliran
behavioristik dan bagaimana pandangannya ?
4. Bagaimana analisis kekuatan dan kelemahan teori behavioristik?
5. Bagaimana pengaplikasian teori behavioristik dalam kegatan pembelajaran?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari rumusan masalah
yang telah dibuat adalah :
1.
Agar mengetahui pengertian belajar menurut pandangan teori behavoristik
2.Agar mengetahui ciri-ciri dari
teori belajar behavioristik
3.
Agar mengetahui aliran behavioristik dan bagaimana pandangannya
4. Agar mengetahui analisis kekuatan
dan kelemahan teori behavioristik
5.
Agar mengetahui pengaplikasian teori behavioristik dalam kegatan pembelajaran
D. Manfaat
Penulisan
1. Manfaat teoritis : makalah ini dapat menjadi
referensi bagi pembaca saat ingin
mencari materi tambahan untuk menambah wawasan.
2. Manfaat
praktis: makalah ini menjadi salah satu
tugas dari mata kuliah teori belajar dan pembelajarannya pada program studi Pendidikan
Fisika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sulawesi Barat.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Belajar Menurut Pandangan Teori Behavioristik
Behaviorisme
adalah teori perkembangan perilaku, yang dapat diukur, diamati dan dihasilkan oleh
respons pelajar terhadap rangsangan.Tanggapan terhadap rangsangan dapat
diperkuat dengan umpan balik positif atau negatif terhadap perilaku kondisi
yang diinginkan.Hukuman kadang-kadang digunakan dalam menghilangkan atau
mengurangi tindakan tidak benar, diikuti dengan menjelaskan tindakan yang
diinginkan.
Menurut teori
behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil dari
pengalaman (Gage, Berliner, 1984).Belajar merupakan akibat adanya interaksi
antara stimulus dan respon (Slavin, 2000).Seseorang dianggap telah belajar
sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini
dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang
berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa,
sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang
diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon
tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat
diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang
diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh siswa (respon) harus
dapat diamati dan diukur.. Faktor lain yang juga dianggap penting adalah faktor
penguatan. Penguatan adalah hal yang
dapat memperkuat timbulnya respon. Bila penguatan diitambahkan maka respon akan
semakin kuat. Begitu juga bila penguatan dikurangi maka responpun akan
dikuatkan. Jadi, penguatan merupakan suatu bentuk stimulus yang penting
diberikan (ditambahkan) atau dihilangkan (dikurangi) untuk memungkinkan
terjadinya respon.
B.
Ciri
dari Teori Belajar Behavioristik
Ciri-ciri dari teori belajar
behavioristik sebagai berikut :
1. Mementingkan pengaruh lingkungan
2. Mementingkan bagian-bagian (
elementalistik )
3. Mementingkan peranan reaksi.
4. Mengutamakan mekanisme terbentuknya
hasil belajar.
5. Mementingkan sebab-sebab di waktu
yang lalu,
6. Mementingkan pembentukan kebiasaan,
dan dalam pemecahan problem, ciri khasnya “trial and error”.
C.
Tokoh-tokoh
Aliran Behavioristik dan Pandangannya
1.
Burrhus
Frederic Skinner (1904-1990).
Seperti halnya kelompok penganut
psikologi modern, Skinner mengadakan pendekatan behavioristik untuk menerangkan
tingkah laku. Pada tahun 1938, Skinner menerbitkan bukunya yang
berjudul The Behavior of Organism. Dalam perkembangan psikologi belajar, ia
mengemukakan teori operant conditioning. Buku itu menjadi inspirasi diadakannya
konferensi tahunan yang dimulai tahun 1946 dalam masalah “The Experimental an
Analysis of Behavior”. Hasil konferensi dimuat dalam jurnal berjudul Journal of
the Experimental Behaviors yang disponsori oleh Asosiasi Psikologi di Amerika
(Sahakian,1970) B.F. Skinner berkebangsaan Amerika dikenal sebagai tokoh
behavioris dengan pendekatan model instruksi langsung dan meyakini bahwa
perilaku dikontrol melalui proses operant conditioning, ketika seorang dapat
mengontrol tingkah laku organisme melalui pemberian reinforcement yang
bijaksana dalam lingkungan relatif besar. Dalam beberapa hal, pelaksanaannya
jauh lebih fleksibel daripada conditioning klasik.Gaya mengajar guru dilakukan
dengan beberapa pengantar dari guru secara searah dan dikontrol guru melalui
pengulangan dan latihan.
Menajemen Kelas menurut Skinner adalah
berupa usaha untuk memodifikasi perilaku antara lain dengan proses penguatan
yaitu memberi penghargaan pada perilaku yang diinginkan dan tidak memberi
imbalan apapun pada perilaku yanag tidak tepat. Operant Conditioning adalah
suatu proses perilaku operant ( penguatan positif atau negatif) yang dapat mengakibatkan
perilaku tersebut dapat berulang kembali atau menghilang sesuai dengan
keinginan. Dalam laboratorium Skinner membuat eksperimen memasukkan tikus yang
telah dilaparkan dalam kotak yang disebut “skinner box”, yang sudah dilengkapi
dengan berbagai peralatan yaitu tombol, alat pemberi makanan, penampung
makanan, lampu yangdapat diatur nyalanya dan lantai yang dapat
dialir listrik karena dorongan lapar tikus beruasah keluar untuk mencari
makanan. Selam tikus bergerak kesana kemari untuk keluar dari box, tidak
sengaja ia menekan tombol, makanan keluar. Secara terjadwal diberikan makanan
secara bertahap sesuai peningkatan perilaku yang ditunjukkan si tikus, proses
ini disebut shapping.
Berdasarkan berbagai
percobaannya pada tikus dan burung merpati Skinner mengatakan bahwa unsur
terpenting dalam belajar adalah penguatan. Maksudnya adalah pengetahuan yang
terbentuk melalui ikatan stimulus respon akan semakin kuat bila diberi
penguatan. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua yaitu penguatan positif
dan penguatan negatif. Bentuk bentuk penguatan positif berupa hadiah, perilaku,
atau penghargaan. Bentuk bentuk penguatan negatif antara lain menunda atau
tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku
tidak senang.
Adapun beberapa prinsip Skinner antara lain :
a)
Hasil belajar harus segera
diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan, jika benar diberi penguat.
b)
Proses belajar harus mengikuti irama
dari yang belajar.
c)
Materi pelajaran, digunakan sistem
modul.
d)
Dalam proses pembelajaran tidak
digunakan hukuman, untuk itu lingkungan perlu diubah untukmenghindari adanya
hukuman.
e)
Dalam proses pembelajaran lebih
dipentingkan aktifitas sendiri.
f)
Tingkah laku yang diinginkan pendidik,
diberi hadiah, dan sebaiknya hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal
variabel Rasio rein forcer.
g)
Dalam pembelajaran digunakan
shaping.
2. Edward Edward Lee Thorndike (1874-1949): Teori Koneksionisme
Thorndike berprofesi sebagai seorang
pendidik dan psikolog yang berkebangsaan Amerika.Lulus S1 dari Universitas
Wesleyen tahun 1895, S2 dari Harvard tahun 1896 dan meraih gelar doktor di
Columbia tahun 1898. Buku-buku yang ditulisnya antara lain Educational
Psychology (1903), Mental and social Measurements (1904), Animal Intelligence
(1911), Ateacher’s Word Book (1921),Your City (1939), dan Human Nature and The
Social Order (1940).
Menurut Thorndike, belajar merupakan
peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang
disebut stimulus (S) dengan respon (R ). Stimulus adalah suatu perubahan dari
lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk
beraksi atau berbuat sedangkan respon dari adalah sembarang tingkah laku yang
dimunculkan karena adanya perangsang.Dari eksperimen kucing lapar yang
dimasukkan dalam sangkar (puzzle box) diketahui bahwa supaya tercapai hubungan
antara stimulus dan respons, perlu adanya kemampuan untuk memilih respons yang
tepat serta melalui usaha –usaha atau percobaan-percobaan (trials) dan
kegagalan-kegagalan (error) terlebih dahulu.Bentuk paling dasar dari belajar
adalah “trial and error learning atau selecting and connecting learning” dan
berlangsung menurut hukum-hukum tertentu.Oleh karena itu teori belajar yang
dikemukakan oleh Thorndike ini sering disebut dengan teori belajar
koneksionisme atau teori asosiasi. Adanya pandangan-pandangan Thorndike yang
memberi sumbangan yang cukup besar di dunia pendidikan tersebut maka ia
dinobatkan sebagai salah satu tokoh pelopor dalam psikologi
pendidikan.Percobaan Thorndike yang terkenal dengan binatang coba kucing yang
telah dilaparkan dan diletakkan di dalam sangkar yang tertutup dan pintunya
dapat dibuka secara otomatis apabila kenop yang terletak di dalam sangkar
tersebut tersentuh. Percobaan tersebut menghasilkan teori “trial and error”
atau “selecting and conecting”, yaitu bahwa belajar itu terjadi dengan cara
mencoba-coba dan membuat salah. Dalam melaksanakan coba-coba ini, kucing
tersebut cenderung untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak mempunyai
hasil. Setiap response menimbulkan stimulus yang baru, selanjutnya stimulus
baru ini akan menimbulkan response lagi, demikian selanjutnya
Dalam percobaan tersebut apabila di
luar sangkar diletakkan makanan, maka kucing berusaha untuk mencapainya dengan
cara meloncat-loncat kian kemari. Dengan tidak tersengaja kucing telah
menyentuh kenop, maka terbukalah pintu sangkar tersebut, dan kucing segera lari
ke tempat makan. Percobaan ini diulangi untuk beberapa kali, dan setelah kurang
lebih 10 sampai dengan 12 kali, kucing baru dapat dengan sengaja menyentuh
kenop tersebut apabila di luar diletakkan makanan.
Dari percobaan ini Thorndike menemukan hukum-hukum
belajar sebagai berikut :
1.
Hukum Kesiapan(law of readiness),
yaitu semakin siap suatu organisme memperoleh suatu perubahan tingkah laku,
maka pelaksanaan tingkah laku tersebut akan menimbulkan kepuasan individu
sehingga asosiasi cenderung diperkuat.
Prinsip
pertama teori koneksionisme adalah belajar suatu kegiatan membentuk
asosiasi(connection) antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak.
Misalnya, jika anak merasa senang atau tertarik pada kegiatan jahit-menjahit,
maka ia akan cenderung mengerjakannya. Apabila hal ini dilaksanakan, ia merasa
puas dan belajar menjahit akan menghasilkan prestasi memuaskan. Adapun masalah-masalah dalama hukum
ini, yaitu:
·
Masalah pertama hukum law of
readiness adalah jika kecenderungan bertindak dan orang melakukannya, maka ia
akan merasa puas. Akibatnya, ia tak akan melakukan tindakan lain.
·
Masalah kedua, jika ada
kecenderungan bertindak, tetapi ia tidak melakukannya, maka timbullah rasa
ketidakpuasan. Akibatnya, ia akan melakukan tindakan lain untuk mengurangi atau
meniadakan ketidakpuasannya.
·
Masalah ketiganya adalah bila tidak
ada kecenderungan bertindak padahal ia melakukannya, maka timbullah
ketidakpuasan. Akibatnya, ia akan melakukan tindakan lain untuk mengurangi atau
meniadakan ketidakpuasannya.
2.
Hukum Latihan (law of exercise), yaitu semakin sering
tingkah laku diulang/ dilatih (digunakan) , maka asosiasi tersebut akan semakin
kuat. Prinsip law of exercise adalah koneksi antara kondisi (yang merupakan
perangsang) dengan tindakan akan menjadi lebih kuat karena latihan-latihan,
tetapi akan melemah bila koneksi antara keduanya tidak dilanjutkan atau
dihentikan. Prinsip menunjukkan bahwa prinsip utama dalam belajar adalah
ulangan. Makin sering diulangi, materi pelajaran akan semakin dikuasai.
3. Hukum
akibat(law of effect), yaitu hubungan stimulus respon cenderung diperkuat bila
akibatnya menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibatnya tidak memuaskan.Hukum ini
menunjuk pada makin kuat atau makin lemahnya koneksi sebagai hasil perbuatan.
Suatu perbuatan yang disertai akibat menyenangkan cenderung dipertahankan dan
lain kali akan diulangi. Sebaliknya, suatu perbuatan yang diikuti akibat tidak
menyenangkan cenderung dihentikan dan tidak akan diulangi.
Koneksi antara
kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak dapat menguat atau melemah,
tergantung pada “buah”hasil perbuatan yang pernah dilakukan. Misalnya,
bila anak mengerjakan PR, ia mendapatkan muka manis gurunya. Namun, jika
sebaliknya, ia akan dihukum. Kecenderungan mengerjakan PR akan membentuk
sikapnya.
Thorndike berkeyakinan bahwa prinsip
proses belajar binatang pada dasarnya sama dengan yang berlaku pada manusia,
walaupun hubungan antara situasi dan perbuatan pada binatang tanpa diperantarai
pengartian. Binatang melakukan respons-respons langsung dari apa yang
diamati dan terjadi secara mekanis(Suryobroto, 1984).
Selanjutnya Thorndike menambahkan hukum tambahan sebagai
berikut:
a. Hukum Reaksi
Bervariasi (multiple response).
Hukum ini
mengatakan bahwa pada individu diawali oleh prooses trial dan error yang
menunjukkan adanya bermacam-macam respon sebelum memperoleh respon yang tepat
dalam memecahkan masalah yang dihadapi.
b. Hukum Sikap
( Set/ Attitude).
Hukum ini
menjelaskan bahwa perilakku belajar seseorang tidak hanya ditentukan oleh
hubungan stimulus dengan respon saja, tetapi juga ditentukan keadaan yang ada
dalam diri individu baik kognitif, emosi , sosial , maupun psikomotornya.
c. Hukum
Aktifitas Berat Sebelah ( Prepotency of Element).
Hukum ini
mengatakan bahwa individu dalam proses belajar memberikan respon pada stimulus
tertentu saja sesuai dengan persepsinya terhadap keseluruhan situasi ( respon
selektif).
d. Hukum Respon
by Analogy.
Hukum ini
mengatakan bahwa individu dalam melakukan respon pada situasi yang belum pernah
dialami dapat menghubungkan dengan
situasi lama yang pernah dialami sehingga terjadi transfer atau perpindahan
unsur-unsur yang telah dikenal ke situasi baru. Makin banyak
unsur yang sama maka transfer akan makin mudah.
e. Hukum
perpindahan Asosiasi ( Associative Shifting)
Hukum ini
mengatakan bahwa proses peralihan dari situasi yang dikenal ke situasi yang
belum dikenal dilakukan secara bertahap dengan cara menambahkan sedikit demi
sedikit unsur baru dan membuang sedikit demi sedikit unsur lama.
Selain menambahkan hukum-hukum baru,
dalam perjalanan penyamapaian teorinya thorndike mengemukakan revisi Hukum
Belajar antara lain :
1.
Hukum latihan ditinggalkan karena ditemukan pengulangan saja tidak cukup
untuk memperkuat hubungan stimulus respon, sebaliknya tanpa pengulanganpun
hubungan stimulus respon belum tentu diperlemah.
2.
Hukum akibat direvisi. Dikatakan oleh Thorndike bahwa yang berakibat
positif untuk perubahan tingkah laku adalah hadiah, sedangkan hukuman tidak
berakibat apa-apa.
3.
Syarat utama
terjadinya hubungan stimulus respon bukan kedekatan, tetapi adanya saling
sesuai antara stimulus dan respon.
4.
Akibat suatu
perbuatan dapat menular baik pada bidang lain maupun pada individu lain.
Teori koneksionisme menyebutkan pula konsep transfer of
training, yaiyu kecakapan yang telah diperoleh dalam belajar dapat
digunakan untuk memecahkan masalah yang lain. Perkembangan teorinya berdasarkan
pada percobaan terhadap kucing dengan problem box-nya.
3. Robert Gagne ( 1916-2002).
Gagne adalah seorang psikolog pendidikan berkebangsaan
amerika yang terkenal dengan penemuannya berupa condition of learning.Gagne pelopor
dalam instruksi pembelajaran yang dipraktekkannya dalam training pilot AU
Amerika. Ia kemudian mengembangkan konsep terpakai dari teori instruksionalnya
untuk mendisain pelatihan berbasis komputer dan belajar berbasis multi media.
Teori Gagne banyak dipakai untuk mendisain software instruksional.
Gagne disebut sebagai Modern Neobehaviouris mendorong
guru untuk merencanakan instruksioanal pembelajaran agar suasana dan gaya
belajar dapat dimodifikasi. Ketrampilan paling rendah menjadi dasar bagi
pembentukan kemampuan yang lebih tinggi dalam hierarki ketrampilan intelektual.
Guru harus mengetahui kemampuan dasar yang harus disiapkan. Belajar dimulai
dari hal yang paling sederhana
kemudian dilanjutkan pada yang
lebih kompleks ( belajar SR, rangkaian SR, asosiasi verbal, diskriminasi,
dan belajar konsep) sampai pada tipe belajar yang lebih tinggi(belajar aturan
danpemecahan masalah). Prakteknya gaya belajar tersebut tetap mengacu pada
asosiasi stimulus respon.
4.
D.Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936).
Ivan Petrovich Pavlov lahir 14 September 1849 di
Ryazan Rusia yaitu desa tempat ayahnya Peter Dmitrievich Pavlov menjadi seorang
pendeta.Ia dididik di sekolah gereja dan melanjutkan ke Seminari Teologi.
Pavlov lulus sebagai sarjan kedokteran dengan bidang dasar fisiologi. Pada
tahun 1884 ia menjadi direktur departemen fisiologi pada institute of
Experimental Medicine dan memulai penelitian mengenai fisiologi pencernaan.
Ivan Pavlov meraih penghargaan nobel pada bidang Physiology or Medicine tahun
1904. Karyanya mengenai pengkondisian sangat mempengaruhi psikology
behavioristik di Amerika. Karya tulisnya adalah Work of Digestive Glands(1902)
dan Conditioned Reflexes(1927).
Classic conditioning ( pengkondisian atau persyaratan
klasik) adalah proses yang ditemukan Pavlov melalui percobaannya terhadap
anjing, dimana perangsang asli dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat
secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan.
Eksperimen-eksperimen yang dilakukan Pavlov dan ahli
lain tampaknya sangat terpengaruh pandangan behaviorisme, dimana gejala-gejala
kejiwaan seseorang dilihat dari perilakunya. Hal ini sesuai dengan pendapat
Bakker bahwa yang paling sentral dalam hidup manusia bukan hanya pikiran,
peranan maupun bicara, melainkan tingkah lakunya. Pikiran mengenai tugas atau
rencana baru akan mendapatkan arti yang benar jika ia berbuat sesuatu (Bakker,
1985).Bertitik tolak dari asumsinya bahwa dengan menggunakan
rangsangan-rangsangan tertentu, perilaku manusia dapat berubah sesuai dengan apa
yang diinginkan. Kemudian
Pavlov mengadakan eksperimen dengan menggunakan binatang(anjing) karena
ia menganggap binatang memiliki kesamaan dengan manusia. Namun demikian, dengan
segala kelebihannya, secara hakiki manusia berbeda dengan binatang.Ia mengadakan
percobaan dengan cara mengadakan operasi leher pada seekor anjing. Sehingga
kelihatan kelenjar air liurnya dari luar. Apabila diperlihatkan sesuatu
makanan, maka akan keluarlah air liur anjing tersebut.Sebelum makanan
diperlihatkan, maka yang diperlihatkan adalah sinar merah terlebih dahulu, baru
makanan. Dengan sendirinya air liurpun akan keluar pula.
Apabila perbuatan yang demikian dilakukan berulang-ulang,
maka pada suatu ketika dengan hanya memperlihatkan sinar merah saja tanpa
makanan maka air liurpun akan keluar pula.Makanan adalah rangsangan wajar,
sedang merah adalah rangsangan buatan. Ternyata kalau perbuatan yang demikian
dilakukan berulang-ulang, rangsangan buatan ini akan menimbulkan
syarat(kondisi) untuk timbulnya
air liur pada
anjing tersebut. Peristiwa ini disebut: Reflek Bersyarat atau Conditioned
Respons.Pavlov berpendapat, bahwa kelenjar-kelenjar yang lain pun dapat
dilatih. Bectrev murid Pavlov menggunakan prinsip-prinsip tersebut dilakukan
pada manusia, yang ternyata diketemukan banyak reflek bersyarat yang timbul
tidak disadari manusia.
Dari eksperimen Pavlov setelah pengkondisian atau
pembiasaan dpat diketahui bahwa daging yang menjadi stimulus alami dapat
digantikan oleh bunyi lonceng sebagai stimulus yang dikondisikan. Ketika lonceng
dibunyikan ternyata air liur anjing keluar sebagai respon yang dikondisikan.
Apakah situasi ini bisa diterapkan pada manusia? Ternyata dalam kehidupan
sehar-jhari ada situasi yang sama seperti pada anjing. Sebagai contoh, suara
lagu dari penjual es krim Walls yang berkeliling dari rumah ke rumah. Awalnya
mungkin suara itu asing, tetapi setelah si pejual es krim sering lewat, maka
nada lagu tersebut bisa menerbitkan air liur apalagi pada siang hari yang
panas. Bayangkan, bila tidak ada lagu tersebut betapa lelahnya si penjual berteriak-teriak
menjajakan dagangannya. Contoh lain adalah bunyi bel di kelas untuk penanda waktu atau
tombol antrian di bank. Tanpa disadari, terjadi proses menandai sesuatu yaitu
membedakan bunyi-bunyian dari pedagang makanan(rujak, es, nasi goreng, siomay)
yang sering lewat di rumah, bel masuk kelas-istirahat atau usai sekolah dan
antri di bank tanpa harus berdiri lama. Dari contoh tersebut dapat diketahui
bahwa dengan menerapkan strategi Pavlov ternyata individu dapat dikendalikan
melalui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk
mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan, sementara individu tidak
menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya.
5.
E.Albert
Bandura
Bandura lahir pada
tanggal 4 Desember 1925 di Mondare alberta berkebangsaan Kanada. Ia seorang
psikolog yang terkenal dengan teori belajar sosial atau kognitif sosial serta
efikasi diri. Eksperimennya yang sangat terkenal adalah eksperimen Bobo Doll
yang menunjukkan anak meniru secara persis perilaku agresif dari orang dewasa
disekitarnya.
Faktor-faktor yang berproses dalam belajar observasi
adalah:
1.Perhatian,
mencakup peristiwa peniruan dan karakteristik pengamat.
2.Penyimpanan atau proses mengingat,
mencakup kode pengkodean simbolik.
3.Reprodukdi motorik, mencakup
kemampuan fisik, kemampuan meniru, keakuratan umpan balik.
4.Motivasi, mencakup dorongan dari
luar dan penghargaan terhadap diri sendiri.
Selain itu juga harus diperhatikan bahwa faktor
model atau teladan mempunyai prinsip prinsip sebgai berikut:
1.
Tingkat tertinggi belajar dari pengamatan diperoleh dengan cara
mengorganisasikan sejak awal dan mengulangi perilaku secara simbolik kemudian
melakukannya.
2.
Individu lebih menyukai perilaku yang ditiru jika sesuai dengan nilai
yang dimilikinya.
3.
Individu akan menyukai perilaku yang ditiru jika model atau panutan
tersebut disukai,dihargai
dan perilakunya mempunyai nilai yang bermanfaat.
Karena melibatkan atensi, ingatan dan motifasi, teori
Bandura dilihat dalam kerangka Teori Behaviour Kognitif. Teori belajar sosial
membantu memahami terjadinya perilaku agresi dan penyimpangan psikologi dan
bagaimana memodifikasi perilaku.Teori Bandura menjadi dasar dari perilaku
pemodelan yang digunakan dalam berbagai pendidikan secara massal.
D.
Analisis
Kekuatan dan Kelemahan Teori Behavioristik
1.
Kelebihan
Teori Behavioristik
a) Model
Behavioristik sangat cocok untuk pemerolehan praktek dan pembiasaan yang
mengandung unsur-unsur seperti kecepatan, spontanitas, kelenturan, refleks,
daya tahan dan sebagainya. Contohnya: percakapan bahasa asing, mengetik,
menari, menggunakan komputer, berenang, olahraga, dan sebagainya.
b) Teori
behavioristik juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih
membutuhkan dominasi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan,
suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi
permen atau pujian.
2.
Kelemahan
Teori Behavioristik
a)
Pembelajaran siswa yang berpusat pada
guru (teacher centered learning), bersifat mekanistik dan hanya
berorientasi hasil yang dapat diamati dan diukur. Sehingga kejelian dan
kepekaan guru pada situasi dan kondisi belajar sangat penting untuk menerapkan
kondisi behavioristik
b)
Penerapan metode ini yang salah akan
mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran tidak menyenangkan bagi siswa
yaitu guru sebagai sentral, bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah
guru melatih dan menentukan apa yang harus dilakukan oleh murid. Murid
dipandang pasif.
c)
Murid hanya mendengarkan dengan
penjelasan dari guru dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai
belajar yang efektif.
d)
Penggunaan hukuman yang sangat dihindari
oleh para tokoh behavioristik justru dianggap metode yang paling efektif untuk
menertibkan siswa.
E.
Aplikasi
Teori Behavioristik Dalam Kegiatan Pembelajaran
Adapun pengaplikaisan teori belajar behavioristik
dalam pembelajaran berdasarkan teorinya adalah sebagai berikut;
1. Menentukan
tujuan dan indikator pembelajaran.
2. Menganalisis
lingkungan belajar dan mengidentifikasi pengetahuan awal peserta didik.
3. Menentukan
materi pembelajaran.
4. Menguraikan
materi pembelajaran menjadi bagian-bagian, meliputi topik, pokok bahasan,
sub-pokok bahasan dan seterusnya.
5. Menyajikan
pembelajaran.
6. Memberi
stimulus kepada peseta didik.
7. Mengamati dan
mengkaji respons yang diberikan peserta didik.
8. Memberikan
penguatan baik yang positif maupun negatif.
9. Memberi
stimulasi ulang.
10. Mengamati dan
mengkaji respons dari peserta didik.
11. Memberi
penguatan.
12. Mengevaluasi
hasil belajar peserta didik.
BAB III
PENUTUP
A.
Simpulan
Bahwa behaviorisme adalah teori
perkembangan perilaku, yang dapat diukur, diamati dan dihasilkan oleh respons
pelajar terhadap rangsangan. Tanggapan terhadap rangsangan dapat diperkuat
dengan umpan balik positif atau negatif terhadap perilaku kondisi yang diinginkan.
Hukuman kadang-kadang digunakan dalam menghilangkan atau mengurangi tindakan
tidak benar, diikuti dengan menjelaskan tindakan yang diinginkan.
Teori belajar behavioristik
menekankan pada perubahan tingkah laku serta sebagai akibat interaksi antara
stimulus dan respon. Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku
sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap
telah belajar apabila ia bisa menunjukkan perubahan tingkah lakunya.
B.
Saran
Sebagai mahasiswa yang berlatar belakang kependidikan
utamanya yang berkecimpung dalam jurusan keguruan harusnya dapat menguasai
teori-teori belajar dengan baik agar mendapat bekal ketika akan terjun langsung
dalam PPL,KKN, maupun apabila suatu saat nanti akan menjadi tenaga pengajar di
suatu sekolah. Dalam masyarakat teori-teori belajar sebenarnya juga sangat
dibutuhkan sebab itu berkenaan dengan cara bersikap ketika kita dihadapkan pada
suatu masalah yang harus kita selesaikan.
DAFTAR PUSTAKA
Hadi,
Ahmad. 2013. Teori Belajar Behavioristik.
dalam http://nudisaku.blogspot.com. Diakses pada tanggal
17 Oktober 2019 pukul 21.00
Haryanto. 2010. Teori Belajar Behaviorisme (online) dalam http://belajarpsikologi.com/teori-belajar-behaviorisme. Diakses pada tanggal 18 Oktober 2019 pukul
13.20
Nurhibatullah. 2014. Aplikasi
Teori Belajar Behavioristik Dalam Pembelajaran. (online) dalam http://nurhibatullah.blogspot.com. Diakses pada tanggal
18 Oktober 2019 pukul 14.00
Badaruzzaman. 2018. Penerapan
Teori Belajar Behavioristk Dalam Pembelajaran (online) dalam http://dasarguru.com. Diakses pada tanggal
18 Oktober 2019 pukul 14.00
Mushaitir. 2017.
Teori Behavioristik dan Aplikasinya Dalam
Pembelajaran. (online) dalam http://mushaitir03.blogspot.com. Diakses pada tanggal 18 Oktober 2019 pukul 14.00
Tidak ada komentar:
Posting Komentar